Tampilkan postingan dengan label expo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label expo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2014

FIKOM UMN Jajaki Kerjasama dengan Istanbul Bilgi University

November 11, 2014 : by Ambang Priyonggo / Universitas Multimedia Nusantara News Service

SERPONG – Prodi Ilmu Komunikasi, Fikom, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menjajaki kerjasama dengan Istanbul Bilgi University Turki. Pembicaraan tentang kerjasama ini dilakukan oleh Kaprodi Ilkom UMN, Dr. Bertha Sri Eko M., M.Si, pekan lalu.

Dr. Bertha diterima oleh Prof. Dr. Halil Nalcaoglu, Dekan Fakultas Komunikasi, Istanbul Bilgi University, Jumat (31/10) lalu, untuk kerjasama akademis terkait riset dan program student exchange. “Semoga kerjasama ini bisa segera terealisasi dalam waktu dekat,” ujar Bertha. 

Prof Halil pun menyambut baik penjajakan kerjasama ini. Menurutnya, pihaknya sangat terbuka untuk menjalin relasi dengan beragam universitas, termasuk di dalamnya Universitas Multimedia Nusantara. 

Istanbul Bilgi University merupakan salah satu universitas terkemuka di Turki. Fakultas Komunikasi universitas ini memiliki lima program studi, yaitu Film School, Media School, School of Communication Design, School of Arts and Cultural Management, dan School of Communication Management. 

Sebelum mengunjungi Istanbul Bilqi University, Dr. Bertha menghadiri Cultural History & Anthropology Conference  (CULTHIS) 2014, 27-29 Oktober di Istanbul, Turki. Pada forum level internasional itu, Dr. Bertha mempresentasikan risetnya yang berjudul “Indonesian students’ Cross Cultural Adaptation in Busan, Korea.” Riset ini membahas soal adaptasi budaya yang harus dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Busan, Korea Selatan. (*)


Pelantikan Pengurus Organisasi Kemahasiswaan UMN

November 19, 2014 : by Arum K D / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Pelantikan pengurus organisasi kemahasiswaan UMN Gen V dilaksanakan pada Selasa (18/11) bertempat di Function Hall UMN. Para pengurus organisasi yang dilantik merupakan pilihan 3.509 mahasiswa UMN yang telah mengikuti pemilu pada 13-17 Oktober 2014. 

 
Pelantikan yang bertajuk “Satu Cita dan Asa untuk UMN” ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Ika Yanuarti, S.E., MSF dan Rektor UMN Dr. Ninok Leksono. 

Con_pelantikangen5-3.gifNinok Leksono menekankan slogan 5C bagi para pengurus organisasi dalam menjalankan tugasnya, di antaranya adalah nilai caring dan competent. “Pengurus kemahasiswaan baiknya tidak hanya aktif, tetapi juga peduli terhadap rekan-rekannya dan peduli terhadap keadaan di kampus,” ujarnya. Para pengurus juga harus mendukung kegitan yang konstruktif dan mengembangkan kecerdasan interpersonal seperti rasa toleransi.

Dalam sambutannya, Ketua BEM 2014/2015 Ricky Jiandy mengatakan tidak berjanji akan melakukan perubahan. Namun, perubahan tersebut bisa dicapai asalkan semua pengurus dan mahasiswa mau bekerja sama. Ricky juga mengajak para pengurus organisasi untuk bekerja sepenuh hati demi kemajuan mahasiswa dan kampus. 

Con_pelantikangen5-2.gif

Berikut nama-nama pengurus organisasi kemahasiswaan UMN periode 2014/2015:

Dewan Keluarga Besar Mahasiswa (DKBM)
KETUA: Maya Linda (Public Relation 2012)
WAKIL: Vincentius Kurniawan (Teknik Informatika 2013)

SEKRETARIS DAN BENDAHARA I: Udaya Pusthikaswasti (DKV 2012)
SEKRETARIS DAN BENDAHARA II: Marvel (Manajemen 2012)

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
KETUA: Ricky Jiandy (Teknik Informatika 2012)
WAKIL: Bernadetta Novia (Public Relation 2013)
SEKRETARIS: Michael Christy Gunawan (Ilmu Komunikasi 2013)
BENDAHARA: Clara Vipassana Gosal (DKV 2013)

HIMMA (Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Multimedia Nusantara)
KETUA: Theodora Regina (2012)
WAKIL: Citra Giofany (2013) 

HIMTARA (Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Multimedia Nusantara)
KETUA: Christine Fonda (2012)
WAKIL: Theresia Henry (2013)

HMFSD (Himpunan Mahasiswa Fakultas Seni dan Desain)
KETUA: Rifan Tio (Desain Grafis 2012)
WAKIL: Ravi Manthovani (Desain Grafis (2013)

HIMSI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi)
KETUA: Alfian Lazuardi (2012)
WAKIL:  I Putu Adi Sudana (2013)

HIMASIKOM (Himpunan Mahasiswa Sistem Komputer)
KETUA: Richard Willy Putra (2012)
WAKIL: Wahyudi Khusnandar (2013)

HIMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika)
KETUA: Shofura Adzani (2012)
WAKIL: Aswin Darma (2013)

I’M KOM (Ikatan Mahasiswa Komunikasi)
KETUA: Beauty Paramaditya (Public Relation 2012)
WAKIL: Olive Kusnadi (Jurnalistik 2013)

Selamat bertugas bagi seluruh pengurus organisasi kemahasiswaan UMN!


Senin, 06 Oktober 2014

Perhelatan Talent Night Miss UMN 2014 Serap Banyak Penonton


September 10, 2014 : by Emil William / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Talent Night 2014 dimulai (9/9), antusiasme Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara sangat tinggi. Hal itu terlihat dari seluruh kursi yang telah disediakan di Function Hall UMN oleh panitia terisi penuh oleh penonton.

foto by : Oktama Kriscahyanto

Standing Area yang sudah disiapkan oleh divisi setting and property pun hampir penuh sesak oleh penonton yang ingin menyaksikan para semi finalis yang akan menampilkan bakat-bakat yang akan mereka tampilkan.

“Saya sendiri ingin tahu bagaimana acara Talent Night Miss UMN ini, dan apa saja talent-talent yang dipunyai sama para pesertanya. Acara ini juga bisa memotivasi saya agar saya bisa mengikuti jejak senior yang mengikuti ajang ini. Selain itu, saya juga pendukung dari salah satu semi finalis Miss UMN, Septatiana Effendi,” ujar Regina Bertha, jurusan Ilmu Komunikasi 2014, ketika ditanya soal apa yang mendorongnya untuk menyaksikan acara Talent Night Miss UMN 2014.

Selain itu, Regina juga menyampaikan bahwa publikasi Miss UMN 2014 yang membuat dirinya tertarik untuk mengikuti acara Talent Night kali ini.

Acara kali ini dipandu oleh Host yang kaya akan pengalaman yaitu Agung Kurniawan dan Ferlina Widjaja. Mereka berdua berasal dari jurusan jurnalistik 2011.

Penulis

Emil William T.
(Media Relation Miss UMN 2014)


Langkah Awal Hadapi Dunia Kerja


September 24, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Sebelum Career Day pada Kamis (25/9) dan Jum’at (26/9) mendatang, Career Development Centre (CDC) UMN mengundang dua pembicara untuk memberikan seminar singkat kepada mahasiswa-mahasiswi UMN yang sebentar lagi akan lulus dan melaju ke dunia kerja mengenai gambaran dunia kerja serta apa yang harus dipersiapkan. Seminar tersebut dilaksanakan di Function Hall, Selasa (23/9).


Ibu Nining Kristiana selaku Director Firstasia menjadi pembicara pada sesi pertama. Beliau menceritakan mengenai bagaimana kondisi dari generasi Y (generasi young) yang menjadi target dari dunia kerja saat ini. Mereka diharapkan agar memiliki kepribadian yang matang serta memiliki self confident, achievement oriented, self centre, creative dan menjadi problem solvers yang baik. 

Con_seminarcardev2.gifSebelum bekerja tentunya seseorang harus melewati proses yang cukup panjang. Dimulai dari seleksi CV, tahap interview hingga tahap akhir seperti negosiasi gaji. Untuk bisa berhasil memasukki pintu awal perusahaan, para pelamar hendaknya memiliki CV yang menarik serta siap untuk melaksanakan interview, di mana interview itu sendiri bisa memiliki beragam bentuk. Tips dan trik untuk membuat CV serta surat lamaran yang baik juga disharingkan kepada peserta. 

“Be youself, jadilah seseorang yang berbeda, bukan sekedar pekerja biasa,” ungkap Beliau. Mahasiswa-mahasiswi didorong untuk selalu mengembangkan communication skill, leadership skill serta keterampilan lainnya. 

Con_seminarcardev3.gifKemudian pada sesi kedua, Learning and Development Manager Kompas Gramedia pak Rumpoko Hadi menekankan bahwa sikap dan mental harus berubah, dari pemikiran seorang mahasiswa ke karyawan. Smart di sekolah berbeda dengan smart di tempat kerja. “Artinya di tempat kerja bukan pintar tapi ‘pintar-pintar’,” ungkap pak Rumpoko. 

Selain itu, menurut Beliau, perusahaan-perusahaan mencari karyawan yang smart, kreatif, memiliki integritas tinggi, dapat bekerja dalam team serta memiliki leadership yang bagus. “Biasakanlah untuk aktif. Sekarang bukan lagi diam adalah emas, tapi bicara adalah berlian. Semua profesi butuh orang yang bisa banyak bicara,” kata Beliau. Tempat kerja akan menjadi tempat yang tepat untuk semakin dapat mengembangkan diri, karena kuliah hanya sebatas menyiapkan pola dan sistematika berpikir, technical skill, logika serta konseptual. Menurut pak Rumpoko, meskipun kuliah dengan pekerjaan berbeda bidang, itu bukanlah suatu masalah. (*) 


JAPAREA : Ketika Jepang dan Korea Berkolaborasi


September 24, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Budaya Jepang dan Korea memang tidak lepas dari kehidupan anak muda jaman sekarang serta cukup menjadi suatu kegemaran tersendiri. Hal tersebutlah yang terlihat dari JAPAREA, event yang dilaksanakan hasil kolaborasi antara UKM J-Café dan Qorie di Lobi UMN, Senin (23/9) hingga Rabu (25/9). 


Con_japarea2.gifKemeriahan festival ini terlihat dari maraknya stand-stand yang menawarkan hiburan menarik khas negara Jepang dan Korea. J-Café—UKM dengan anggota penggemar budaya Jepang— dan Qorie—UKM beranggotakan penggemar budaya Korea—membuka kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswi UMN untuk menikmati games serta kegiatan seperti rubber band gun, visual novel, illustration, serta trading card game. 

Con_japarea3.gifPengunjung juga dapat membeli beberapa mainan figur tokoh anime Jepang di sebuah stand yang juga telah disediakan. 

Con_japarea4.gifTak hanya itu, acara juga semakin lengkap dengan adanya performance cover dance, cover song dan cosplay ala karakter Jepang yang mengundang antusiasme pengunjung. (*) 

Gerbang Awal Karir Masa Depan


September 25, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Career Development Centre (CDC) UMN membuka kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswi tingkat akhir untuk dapat mencari perusahaan yang sesuai baik untuk magang maupun kerja di Function Hall UMN, Kamis (25/9) dan Jum’at (26/9).


Di era modern saat ini, persaingan untuk mendapat sebuah pekerjaan semakin sulit. Meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia salah satunya disebabkan oleh keadaan ekonomi yang fluktuatif. Salah satu cara untuk menekan angka pengangguran adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Selain pendidikan, networking juga merupakan salah satu kiat agar kita bisa mudah mendapatkan pekerjaan.

Catatan terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS) sampai dengan jelang akhir 2014, jumlah angkatan kerja hingga mencapai angka 119,91 juta orang. Sementara itu, hingga akhir tahun 2014, diperkirakan jumlah pengangguran turun 6,03 persen menjadi 7,24 juta. Sampai dengan September 2014, angka pengangguran masih menyentuh jumlah 7,39 juta jiwa.

Untuk menjadikan lulusannya sebagai calon tenaga kerja tangguh yang mampu bersaing serta mempermudah mereka untuk menemukan tempat kerja yang sesuai, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) membuka networking bagi para pelajar serta lulusannya dengan perusahaan-perusahaan dengan menggelar Career Day 2014. Ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh Career Development Centre (CDC) UMN yang diselenggarakan dua kali di setiap tahunnya yakni bulan Maret dan September. 

Con_careerday2.gifCareer Day periode kedua di tahun 2014 ini berlangsung dari tanggal 25-26 September 2014 di Main Lobby & Function Hall UMN, mulai dari jam 09.00 – 16.00 WIB. Terdapat 41 perusahaan yang berpartisipasi dalam acara ini, di antaranya Bank BCA, Panin Bank, Nutrifood, Astra Credit Companies, Adira Finance, Telkomsel, Sophie Paris, PT Saga Machie, Dynapack Indonesia dan lainnya. Dan tak ketinggalan, salah satu unit usaha yang didirikan oleh mahasiswa UMN di bawah naungan Skystar Ventures (Business Incubator) bernama Dreambox, turut membuka lowongan untuk magang dan freelance. 

Melania Maria dari Career Development Centre (CDC) UMN mengatakan, “Melalui Career Day UMN mahasiswa akan mendapat pemahaman mengenai pengenalan perusahaan, pekerjaan yang perusahaan butuhkan beserta kriterianya, juga syarat-syarat untuk bergabung dengan perusahaan tersebut. Mahasiswa juga bisa langsung dapat melamar ke perusahaan dengan menyerahkan CV, serta akan mendapat informasi mengeani tempat magang, dan tempat kerja”.Tidak hanya sekedar drop CV, mahasiswa-mahasiswi juga diperkenankan untuk langsung melakukan interview dengan perusahaan yang bersangkutan di tempat. (*) 


Re : Suara Hati Pelacur Lesbian

September 26, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Tidak pernah ada perempuan yang bercita-cita untuk menjadi pelacur. Tapi apa daya, RE terjerumus ke dalam perangkap pelacuran dan terpaksa membayar ‘hutangnya’ dengan melayani sesama jenis seumur hidupnya. 

Maman Suherman membacakan surat terakhir dari RE untuknya

RE lari dari rumah ketika berusia 16 tahun dalam keadaan hamil, dihamili oleh guru SMPnya. Sampai di Jakarta, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang ibu yang sangat baik hati, mempersilahkan RE yang tidak memiliki apa-apa untuk tinggal di rumahnya. Setelah RE melahirkan anaknya, tiba-tiba ibu itu memperlihatkan sejumlah tagihan. Ternyata, semua yang telah digunakan RE selama tinggal di rumah tersebut dihitung, dan untuk membayar hutang-hutangnya tersebut, RE diharuskan untuk menjadi pemuas nafsu dari sesama jenisnya dengan target 120 orang per bulan. Ia terjerembab ke dalam lubang pelacuran lesbian.

RE tidak ingin sang anak mengetahui siapa dan apa pekerjaan ibunya, maka ia menitipkan anaknya dan hanya berani melihat dari kejauhan. “Anak itu suci, saya tidak ingin keringat pelacur menempel di tubuhnya,” begitu katanya. Semua jerih payah yang dikumpulkannya selama menjadi pelacur dikumpulkannya demi menghidupi anaknya, hingga akhir hayatnya. Hutang RE waktu itu sudah lunas, tapi ia tetap tidak bisa keluar dari jerat pelacuran. Sang ‘mami’ akan menyiksa siapapun yang ingin keluar dengan cara yang sadis. RE ternyata juga mengakhiri hidupnya dengan tragis. 

Itulah sepenggal kisah dari buku “RE:” karangan Maman Suherman, seorang jurnalis, pembawa acara TV dan juri program comedy. Dalam acara Bicara Buku (RAK) UMN yang diselenggarakan oleh perpustakaan UMN dan himpunan mahasiswa Ilmu Komunikasi (I’M KOM), Kamis (25/9), Maman mengupas habis latar belakang dari buku keempatnya tersebut, yang diketahui sebagai hasil skripsinya di jurusan Kriminologi UI yang ditulis kembali dalam bentuk novel. “RE itu memang berdasarkan kejadian nyata, di surat terakhirnya, ia meminta saya untuk mengabarkan cerita ini. Buku RE ini seperti cara saya membayarkan hutang saya kepadanya, karena ia juga telah banyak membantu saya,” tutur Maman. 

Novel ini memang mengandung unsur emosional dan subjektif dari sang penulis. Maman bergaul dan terjun langsung, menginvestigasi dunia ‘gelap’ RE dengan menjadi sopir selama dua tahun. Dari sana,  ia juga banyak dibantu oleh RE, seperti untuk membayar kuliahnya hingga memberikannya beasiswa. Semua itu yang membuat Maman merasa memiliki hutang pada RE. 

Ada banyak nilai yang ditonjolkan Maman dalam “RE:” terutama mengenai sosok perempuan dan ibu. “Seperti RE, orang yang jasanya paling besar terhadap anaknya adalah ibu, apapun profesinya. Jangan mudah menjudge orang hanya dengan melihat dari profesi. Dan hal lainnya, RE bicara tentang harkat keperempuanan, harkat seorang ibu. Seperti potret ibu saya dan teman-teman perempuan saya,” ungkapnya. (*)

New Media Tower UMN Juara 1 Energy Efficient Building tingkat ASEAN

September 26, 2014 : by Andrey Andoko / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Gedung New Media Tower Universitas Multimedia Nusantara (UMN) berhasil menyabet juara pertama sebagai Energy Efficient Building kategori Tropical Building dalam ASEAN Energy Award 2014. Trofi diserahkan pada ASEAN Energy Ministry Meeting di Vientiane, Laos. Sebelumnya, gedung New Media Tower ini juga menjadi juara 1 gedung hemat energi tingkat nasional di tahun 2013 sehingga berhak maju pada tingkat ASEAN. 

Con_tropicalbuilding3.pngKeberhasilan gedung New Media Tower ini menjadi juara 1 karena banyak menerapkan desain pasif dalam penghematan penggunaan energi khususnya dengan mengurangi penggunaan pendingin udara (AC) dan banyak memanfaatkan sirkulasi udara alam. Desain pasif ini di antaranya dengan penentuan arah (orientasi) bangunan, penggunaan fasat double skin yang terbuat dari lembaran almuninium dengan lubang pori-pori yang dirancang untuk mengatur intensitas panas dan cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan. 

Con_tropicalbuilding2.pngHanya ruangan tertutup yang diberi pendingin udara sehingga banyak menghemat penggunaan energi listrik. Lubang pori-pori tersebut juga berfungsi sebagai saluran untuk sirkulasi udara sehingga koridor di tiap lantai mendapatkan cukup hembusan angin dan tidak memerlukan AC. Selain itu, pencahayaan sudah diperhitungkan sehingga bisa mengurangi penggunaan lampu pada siang hari namun masih tetap nyaman untuk penggunaan proyektor di dalam kelas dan aktivitas lainnya.

Untuk menghasilkan udara alam yang cukup nyaman, kampus UMN di kelilingi dengan pepohonan yang rindang. Selain itu, konservasi alam juga dilakukan terhadap air dimana air hujan ditampung dan air kotor di daur ulang dan digunakan kembali untuk pendingin mesin, menyiram tanaman dan pembersih toilet. 

Con_tropicalbuilding4.pngGedung New Media Tower ini digunakan sebagai ruang kelas, laboratorium, lecture theater, kantin (yang juga digunakan sebagai tempat untuk bertemu para mahasiswa), galeri dan inkubator bisnis. Kemenangan ini merupakan bukti komitmen UMN untuk turut berperan serta dalam konservasi energi dalam pengembangan sarana kampus. (*)

Senin, 23 Juni 2014

Bisnis Inovatif dari Kartu USB dan Koleksi Pribadi

May 26, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Bermasalah dengan USB yang kerap tertinggal saat presentasi di kelas? Atau ingin punya koleksi baru tanpa mengeluarkan biaya? Dua inovasi bisnis ini bisa menjadi jawaban dari permasalahan dan keinginan anda tersebut. 


Technopreneurship Exhibition UMN yang dilaksanakan pada Senin (26/5) di lobi dan function Hall UMN dimeriahkan oleh beragam stand bisnis yang kreatif dan inovatif. Dari menjual produk hingga jasa. Salah satunya ialah CARDUS. 

Con_cardus.pngCARDUS merupakan sebuah brand untuk USB card seukuran kartu ATM. Konsep dari bisnis ini terinspirasi dari kondisi anak kuliahan hari-hari ini. “Kita anak kuliah butuh USB, untuk copy materi dari dosen misalnya lalu materi presentasi. Saat presentasi, karena USB itu ukurannya kecil, jadi sering ketinggalan. Dari sana, kita berpikir untuk membuat USB card yang bisa ditaruh di dompet karena dompet itu barang yang paling sering dibawa ke mana-mana,” tukas Steffi Weliani, salah satu penggagas CARDUS. 

Con_cardus2.pngSelain fungsional, kartu ini juga mempunyai maskot seekor kangguru. “Ini bukan kangguru Australia tapi kangguru Indonesia yaitu dari pegunungan di Papua. Kita ambil kangguru ini dengan filosofi ingin mengangkat sesuatu yang orang-orang belum banyak yang tau serta memiliki nuansa Indonesia,” jelas Steffi. Di setiap desain kartu, kangguru-kangguru tersebut menggunakan kostum pakaian daerah, ada yang menggunakan baju dayak, baju Bali, kostum pak Raden serta wayang. “Selain itu, karena menjelang piala dunia dan banyak permintaan untuk seragam bola, kita juga ada motif yang mengkombinasikan motif klub bola dengan batik,” tambahnya. 

Con_cardus3.pngProduk yang digarapnya bersama sembilan teman lainnya yang berasal dari jurusan manajemen, TI serta akuntansi tersebut sukses meraih perhatian konsumen. Hingga pameran berlangsung telah terjual sebanyak 50 kartu. Selain di pameran, promosi dan penjualan juga dilakukan secara online. “Ke depannya nanti kita juga berharap bisa b2b, bekerja sama dengan perusahaan maupun politik dalam bentuk souvenir,” kata Steffi. 

Con_barter3.pngSelain CARDUS, adapula sebuah website yang menawarkan jasa untuk konsumen saling barter barang yang dimilikinya, Barterjual.com. Jasa ini menjadi terobosan baru, bukan hanya jual-beli barang saja tetapi juga saling barter barang. “Jadi konsumen bisa saling tukar barang tanpa mengeluarkan biaya. Kita berperan sebagai perantara. Semua barang yang masuk kita seleksi dulu, apakah kualitasnya masih layak untuk dibarterkan atau tidak,” ungkap Olivia dan Fitria dari TI 2011, para penggagas Barterjual.com. 

Con_barter2.pngBagi konsumen yang tertarik untuk membarterkan barangnya, mereka dapat memposting gambar barang tersebut berikut dengan kualitas sesungguhnya di website. Barang yang dibarterkan bisa berupa apa saja “Tapi biasanya lebih ke kolektor,” tambah Fitria. Di hari pertama diluncurkan saat Technopreneurship Exhibition ini, sudah banyak orang yang meregistrasi maupun negosiasi untuk barter. 

Mereka berharap ke depannya bisnis tersebut bisa meluas secara nasional. (*) 


Peserta BIPA UMN Jadi Translator Indonesia Untuk Tim Asian Dream Cup 2014

June 05, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Enam bulan belajar bahasa Indonesia, pria asal Korea Selatan ini telah menjadi penerjemah bahasa Korea-Indonesia untuk tim Asian Dream Cup 2014 Jakarta, Senin (2/6). 


Lee Hyeon Jae (Nico) menjadi salah satu dari dua puluh volunteer penerjemah bahasa Korea-Indonesia untuk Park Ji-Sung dan anggota Running Man dalam rangka Asian Dream Cup 2014 di Gelora Bung Karno Senin kemarin. Ilmunya yang didapatkan selama belajar bahasa Indonesia di UMN diterapkan untuk membantu tamu-tamu dari Korea Selatan dalam beraktivitas di Jakarta selama tiga hari. 

Nico telah belajar bahasa Indonesia sebagai peserta Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA) UMN selama enam bulan. Saat ini, ia berada di kelas tingkat Madya—sebuah tingkat lanjutan—di mana ia belajar membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan dengan dibimbing oleh dosen-dosen bahasa Indonesia profesional dari UMN. Dalam waktu yang singkat, ia sudah dapat berbicara dengan cukup lancar dan mengerti banyak kosa kata. 

“Saya memberanikan diri untuk menjadi volunteer acara tersebut untuk melatih kemampuan bahasa Indonesia saya,” tuturnya. Nico mengatakan, ia mencari lowongan volunteer tersebut di internet kemudian berhasil lolos seleksi. “Ada sekitar 80 orang dari Korea, saya bersama teman-teman translator membantu mereka bicara Indonesia. Saya bantu untuk menunjukkan jalan dan cara naik kendaraan umum dengan bahasa Indonesia. Mereka kagum karena saya bisa bahasa Indonesia,” jelas pria berkacamata tersebut. 

Selain bisa mempraktekkan kemampuan bahasa Indonesia, ia pun berkesempatan untuk bertemu dengan anggota Running Man (variety show Korea) serta Park Ji-Sung bertanding sepak bola dan melihat proses syutingnya. Dari pengalaman tersebut, Nico termotivasi untuk terus memperdalam kemampuan berbahasanya. “Saya masih harus banyak belajar lagi di kelas BIPA UMN,” katanya. (*) 

UMN Hasilkan Lulusan Berkompeten Untuk Hadapi AEC 2015

June 07, 2014 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Untuk menghadapi era ASEAN Economic Community tahun depan, UMN berkontribusi menghasilkan lulusan-lulusan tangguh yang siap bersaing dengan tenaga ahli dari negara lain. Pada Sabtu (7/6), kembali dilahirkan 279 calon-calon tenaga ahli baru dalam wisuda V UMN.



Berdasarkan data ASEAN, sekitar 600 juta warga ASEAN berpotensi untuk saling bersaing, di mana Indonesia menjadi salah satunya yang sangat berpotensi untuk  menjadi pemain utama di ASEAN. UMN sangat peduli pada usaha mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. Dr. Ninok Leksono selaku Rektor UMN mengatakan bahwa sejak awal berdiri UMN sudah berorientasi internasional. Untuk itu, momentum pelaksanaan ASEAN Economic Community juga menjadi salah satu prioritas.

“UMN telah, sedang, dan tentu saja perlu perlu untuk terus memperbaikki diri sehingga setiap alumnus yang dihasilkan mampu bersaing dan berkontribusi. Setiap lulusan UMN harusnya siap dengan bekal untuk berkompetisi dengan tenaga ahli dari negara lain,” ujar Ninok pada pidato pembukaan wisuda V. Beliau menegaskan, perusahaan Indonesia akan diisi oleh putera-puteri bangsa sendiri yang cekatan dan inovatif. Sudah selayaknya orang Indonesia bisa makmur dan berprestasi di negeri sendiri, kemudian dengan sendirinya mereka juga bisa bertarung di negara lain.

Lulusan-lulusan UMN telah dipersiapkan untuk bisa tangguh menghadapi ASEAN Economic Community yakni melalui program wajib kerja magang; program sertifikasi internasional seperti Oracle, Cisco, Microsoft, SAP, dsb; serta kerja sama dengan berbagai universitas luar negeri.

“Kita menjalin kerja sama dengan berbagai universitas di Taiwan, Korea, Jepang, Malaysia, Australia dengan tujuan memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk melaksanakan kerja magang, riset dan studi lanjut S2. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan para mahasiswa UMN tidak hanya mengenal tetapi juga dikenal di lingkup internasional,” ujar Prof. Muliawati Siswanto, Wakil Rektor bidang Kerja Sama. Hasil dari kerja sama tersebut terlihat dari alumnusnya yang telah meniti karir di berbagai perusahaan, 70% di perusahaan nasional dan 30% di perusahaan internasional.

Bukan hanya mendidik mahasiswa menjadi tenaga professional, UMN juga mempersiapkan lulusannya untuk menjadi wirausahawan dengan membentuk business incubator yang diberi nama Skystar Ventures. Business Incubator ini memfasilitasi startup bisnis untuk mewujudkan ide bisnis mereka dengan menyediakan funding, mentor-mentor profesional, co-working space yang nyaman serta kerja sama dengan perusahaan nasional serta internasional.
Wisuda yang ke V ini menghasilkan 279 wisudawan yang terdiri atas 34 mahasiswa Teknik Informatika, 2 mahasiswa Sistem Komputer, 18 mahasiswa Sistem Informasi, 87 mahasiswa Ilmu Komunikasi, 47 mahasiswa Desain Komunikasi Visual, 31 mahasiswa Manajemen dan 60 mahasiswa Akuntansi. Masing-masing dari 7 program studi memiliki lulusan-lulusan terbaik. Dari ketujuh orang tersebut, muncul nama Chrysan Kirana Warsiman, mahasiswi jurusan Akuntansi yang dinobatkan menjadi lulusan terbaik universitas.

Chrysan lulus 3,5 tahun dengan predikat cumlaude, selama di kampus pun ia juga kerap mendapatkan beasiswa prestasi. Saat ini, Chrysan sudah bekerja di KAP Ernst & Young. Ia menjadi salah satu dari 90% wisudawan yang telah lebih dulu bekerja, baik di perusahaan nasional maupun internasional. (*)


Senin, 02 Desember 2013

Film Tentang Anak Kos Kehausan Jadi Favorit di Jogja


December 2, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


HARYO, sebuah film fiksi pendek berdurasi 13 menit menjadi pilihan favorit penonton di festival film Jogja Cinephilia. Festival ini diikuti oleh berbagai institusi pendidikan film di Indonesia. 

Film HARYO menceritakan seorang pemuda bernama Haryo yang menderita dehidrasi di kosnya akibat hawa panas siang bolong dan ia berusaha untuk menghilangkan rasa hausnya tersebut. “Idenya dari Martinus Tito,cameraman dan scriptwriter dari film ini. Semuanya berdasarkan pengalaman pribadi,” tutur Zidny I. Nafian, sutradara HARYO, mahasiswa Sinematografi UMN 2010. Proses pembuatan filmnya sendiri dilakukan di awal tahun 2013. “Dari syuting hingga selesai editing sekitar tiga bulan,” tambahnya.

Sebelumnya, HARYO telah dikirim ke berbagai festival film seperti Psychofest di UI, festival film di Solo dan menjadi nominasi. Dan kali ini, keiikutsertaanya di Jogja Cinephilia sangat mengejutkan terutama bagi Zidny. “Tiba-tiba saja saya dapat kabar kalau HARYO jadi favorit di sana, benar-benar surprise,” tuturnya. Zidny mengaku ia tidak mengetahui bahwa karyanya tersebut masuk ke Jogja Cinephilia. 

Mengenai hal tersebut, ibu Ina Riyanto selaku Koordinator Jurusan Sinematografi UMN menjelaskan bahwa ada sebuah organisasi di UMN yang bertugas untuk menampung karya mahasiswa dan mengirimkannya ke festival. “Kita punya UMN Gate yang dikelola mahasiswa dan tugasnya memantau festival-festival di Indonesia dan luar negeri serta karya-karya mahasiswa. Karya yang sekiranya pantas untuk masuk ke festival kami minta sebagai copy-nya supaya nantinya bisa diikutsertakan ke festival,” jelasnya. 

Jogja Cinephilia merupakan sebuah festival film yang dikhususkan untuk film-film yang dibuat oleh mahasiswa. Pesertanya sendiri berasal dari berbagai institusi film di Indonesia seperti SAE institute, IKJ, Institut Seni Indonesia dan masih banyak lagi. Acara yang berlangsung pada 23-24 November 2013 ini terdiri dari pemutaran film serta diskusi. “Saat itu saya diundang menjadi pembicara oleh director Jogja Cinephilia bapak Ifa Isfansyah lalu diminta untuk mengirimkan film yang bisa diperlombakan akhirnya saya masukkan HARYO. Menurut saya ini film yang sangat art house,” kata ibu Ina. 

Masuk dalam kategori Official Selection (film dalam kategori ini akan dipilih oleh penonton) dan akhirnya dinobatkan sebagai film favorit penonton

Sebelumnya, HARYO juga pernah ditampilkan di UCIFEST 4 (UMN Cinema Festival) pada awal November kemarin dan masuk ke dalam kategori Focus On Ultima Screen. Selamat dan teruslah berkarya! (*) 


Jauhi Penyakitnya Sayangi Penderitanya

December 2, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service

Keprihatinan terhadap anak-anak penderita HIV/AIDS mendorong dilaksanakannya We Do Care AIDS, sebuah kampanye sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa HIV/AIDS tidak menular melalui sentuhan. Kampanye ini juga diselenggarakan dalam rangka memperingati hari AIDS sedunia pada 1 Desember. 

Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya, demikianlah tema yang dipilih untuk kampanye We Do Care AIDS Ini. Dari tema tersebut ingin disampaikan bahwa penyakit HIV/AIDS tidak menular melalui sentuhan sehingga para penderita HIV/AIDS tak perlu dijauhi. Para penderita masih ingin hidup normal dan diterima di masyarakat. 

We Do Care AIDS sendiri diadakan oleh sekelompok mahasiswa Public Relations Universitas Multimedia Nusantara bekerja sama dengan Rencang Social Community dan SUSF (Syair Untuk Sahabat Foundation). Rangkaian kampanye dimulai dari adanya stand dan poster sejak Senin (25/11) di lantai 1 Gedung New Media Tower UMN yang bertujuan untuk mengajak mahasiswa-mahasiswi UMN untuk turut terlibat dan mendukung kampanye. Semuanya akan berpuncak pada Sabtu (14/11) di Summarecon Mal Serpong, Tangerang. 

“Ide kampanye ini sangat menarik, bahkan bagi saya yang akan terlibat di dalamnya, melakukan kampanye ini dengan dilabeli ‘I’m HIV/AIDS positive, please give me high hive’ sudah merupakan tantangan tersendiri bagi setiap volunteer,” jelas Stella Saputra, Immediate Past Preseident Leo Club Jakarta Jayakarta Benevole. 

Pada acara puncak, akan turut hadir 2 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dalam sebuah talkshow yang juga akan diselingi oleh penampilan band dan acara menarik lainnya. 

Bekerja sama dengan Leo Clubs, kampanye kali ini bukan hanya di Indonesia saja tapi juga di Malaysia, Hong Kong dan Srilanka dengan tema, tujuan dan bentuk kegiatan yang sama. 


Selasa, 26 November 2013

Pentingnya Berkonsep Dalam Fotografi

November 21, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


“Kita perlu mencatat atau menggambar konsep untuk pemotretan karena kita tidak bekerja sendiri. Ada stylish, klien, crew, model , jadi susah unhtuk menyampaikan ide yang ada di kepala dengan bahasa,” tutur pak Tirta Yudha. 

Pentingnya berkonsep sebelum melakukan photo shoot model atau studio diutarakan oleh pak Tirta Yudha dalam workshop bersama Oktagon, Kamis (20/11) pagi. Fotografer yang lama berkecimpung di dunia majalah ini telah banyak menangani pemotretan model untuk produk, cover dan editorial contentdan semuanya diawali dengan pematangan konsep. 

“Kebanyakkan orang malas untuk berkonsep. Padahal presentase untuk tahap pre-production sebesar 30%, artinya kalau kita skip konsep pekerjaanya tidak sempurna,” jelas beliau. Selanjutnya, untuk produksi 40% dan post-production 30%. Kebanyakkan porsi untuk post-production tidak terlalu banyak.

Dalam berkonsep, langkah-langkah yang perlu dilakukan ialah menuangkan ide dalam gambar yang sederhana saja, kemudian dilakukan cek lokasi terlebih dahulu sebelum hari pemotretan. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan angle-angle yang tepat, lighting position, mengetahui apa saja yang mengganggu sehingga bisa segera diatasi. Kemudian, perlu juga membawa kamera dengan lensa yang sama dengan yang akan digunakan saat pemotretan. Dan mengapa semuanya itu harus dilakukan sebelum pemotretan? Agar saat hari produksi semuanya sudah siap dan tidak buang waktu. 

Selanjutnya, pak Tirta Yudha lebih banyak memperlihatkan foto-foto selama ia mengerjakan proyek untuk Harper’s Bazaar yang bekerja sama dengan Mango. Bagaimana posisi lighting yang benar supaya menghasilkan foto yang natural, bukan digital imaging. Setelah dibekali ilmu, mahasiswa-mahasiswi DKV yang menjadi pesertanya diberikan kesempatan untuk mempraktekkan langsung foto model di ruangan dengan alat-alat yang telah disediakan oleh pihak Oktagon. 

Dari keseluruhan workshop ditekankan bahwa untuk hasilkan foto yang bagus dengan kualitas profesional, dari pre-production, production hingga post-production harus matang dan maksimal. (*) 


Belajar Bikin Game dengan LUMINOV

Belajar Bikin Game dengan LUMINOV

November 20, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service

LUMINOV, studio game creator WAFER FACTORY memberikan tips and trick seputar pembuatan game tersebut kepada mahasiswa-mahasiswi ICT UMN, Rabu (20/11). WAFER FACTORY dinobatkan sebagai juara pertama di ajang GemFest 2013 yang diselenggarakan oleh Kreon Mobile Oktober silam. 

Dilihat dari namanya, WAFER FACTORY bisa digambarkan sebagai game yang berhubungan dengan produksi wafer di pabrik. Ya, dalam puzzle game ini pemain ditugaskan untuk menumpukkan layer-layerwafer menjadi wafer yang lebih besar dan lebih bagus kemudian dimasukkan ke kotak yang tepat sesuai dengan rasa (strawberry, susu, coklat dan sebagainya). Semakin tinggi level semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi. 

Pembuatan game ini sendiri dari sejak pembuatan konsep hingga prototype selesai memakan waktu hampir dua bulan. Semuanya diawali dari mencari inspirasi dan brainstorming ide. “Kita lihat dari kebutuhan apa yang mau kita jawab melalui game kita. Setelah dipikir-pikir akhirnya ada dua, game ini bisa dimainkan oleh segala umur dan kalangan. Maka itu kita bikin puzzle game karena selain semua orang di dunia memainkannya, pasarnya juga luas. Kemudian, terintegrasi juga dengan sosial media,” jelas Ivan Jayadi dari Luminov. Tujuannya dibuat agar terhubung dengan sosial media  seperti facebook dan twitter supaya pemain dapat saling adu skor serta membeli item yang berhubungan dengan game. 

Kekuatan lain dari WAFER FACTORY sehingga bisa muncul sebagai game puzzle yang outstanding ialahgameplay yang berbeda dan keluar dari tendensi game developer dunia. “Kebanyakkan dari mereka mengambil game yang sudah terkenal dan bikin yang sama persis tapi item dan asetnya diganti-ganti,” kata Ivan. Untuk WAFER FACTORY, dicitpakan cara bermain yang baru dan grafis yang menggunakan warna dark sehingga terkesan agak suram. Dengan warna unik tersebut diharapkan publik dapat dengan mudah mengenal, mengingat dan menciptakan image tersendiri di mata pemain sebagai game khas buatan Luminov. 

Seusai mengumpulkan inspirasi baru dilakukan eksplorasi seluas-luasnya untuk seluruh elemen yang bisa digunakan untuk game serta variasi agar tidak membosankan, namun yang paling penting ialah ‘wow’ efek, sesuatu yang bisa membuat pemain tetap termotivasi untuk terus bermain. “Ada dua tahap yang harus diperhatikan. Pertama, dari calon pemain menjadi pemain perlu sesuatu yang menarik mereka untuk mencoba dan download game. Kedua, setelah dia mulai main, kita berikan tantangan sehingga enggak bosan untuk main,” jelas Ivan. Efek yang diterapkannya dalam WAFER FACTORY seperti menambahkan fitur-fitur baru; achievement dan quest, tiba-tiba wafer bisa keluar racun atau ada bomnya. Selain itu ditambahkan story untuk setiap beberapa level. Semakin tinggi level semakin menantang. Ivan menyebutnya sebagai easy to play, hard to master

“Saat buat game, kita harus bisa fokus dengan apa yang ingin dibuat. Tentukan satu arah, kalau ada yang tidak cocok dengan tujuan game itu kita relakan. Lalu untuk tahap mengerjakan prototype, mulai dari pengembangan aset, memperbagus aset, coding, semuanya dilakukan bertahap, tidak dikerjakan langsung kelar semua. Harus sabar,” pesan Ivan kepada peserta seminar. 

Selain sharing tips dan trick, General Manager Luminov Tanaka Murinata turut menyadarkan peserta terhadap tantangan pengembangan game di Indonesia, yakni mindset konsumen, SDM dan promosi “Di Indonesia pembelian aplikasi sedikit karena kebanyakkan masih download. Dari sisi SDM, programmerIndonesia masih belum banyak. Dan terakhir, untuk launching game juga sedikit sulit. Game ada di Playstore supaya bisa didownload itu tidak gampang. Harus bersaing dengan jutaan aplikasi lainnya,” jelas Tanaka. 

Dengan ilmu yang telah dibagikan oleh Luminov pagi ini, mahasiswa-mahasiswi ICT UMN diharapkan dapat menghasilkan game-game yang tak kalah menarik dan outstanding serta bisa mengatasi tantangan-tantangan yang ada, kemudian muncul sebagai insan-insan berprestasi untuk almamater dan negri. (*)

Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika|Sistem Informasi|Sistem Komputer|Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi|Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id


Senin, 21 Oktober 2013

Jadi Penyiar Itu Asyik

October 18, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Trax FM berbagi cerita tentang serunya terjun ke dunia broadcasting khususnya radio dalam TraxWorkshopaholic. 

Peserta workshop di Lecture Hall Kamis (17/10) sore dibuat tertawa dengan humor segar ala Aldy dan Dery, penyiar Morning Zone Trax FM. Mereka sebagai MC membuat suasana menjadi hidup dan tidak membosankan dari awal workshop. Selain mereka, adapula tiga pembicara lain dari kru Trax yang sharing seputar kehidupan siaran; Joey (penyiar), Sawi (Produser), Didot (Program Director)

Sebagai salah satu penyiar, Joey lebih menjelaskan mengenai apa sih sebenarnya esensi dari penyiar di kala jaman sekarang ini sekian juta lagu sudah bisa didownload dengan mudah dan didengarkan di mana saja. Informasi pun sudah bisa dicari di twitter atau social media lainnya sehingga penyiar kalah cepat. “Job desk penyiar itu sekarang kurang lebih menjadi partner atau teman si pendengar secara personal. Kita dilatih supaya sengobrol mungkin dengan orang, jadi teman dan sahabat yang baik, bisa menemani waktu lagi kena macet, atau bisa bikin hari yang tadinya butek jadi happy,” jelas Joey. 

Lalu bagaimana menjadi penyiar yang baik? Menurut Joey, industri broadcasting perlu orang-orang yang benar-benar memiliki passion untuk jadi penyiar radio, bukan hanya yang sekedar ingin menjadikan profesi radio announcer sebagai batu loncatan. “Radio perlu orang-orang yang enggak cukup puas dengan keseragaman misalnya dalam hal lagu. Kalau cuma puas dengan lagu-lagu yang secara rating bagus, industri ini enggak akan ke mana-mana,” tuturnya. 

Hal paling penting yang perlu diingat dan ditanamkan dalam diri penyiar ialah hendaknya selalu menjadi diri sendiri, natural. “Teknik dan skill bisa dipelajari, knowledge bisa dicari, tapi kalau karakter cuma kita yang punya, sesuatu yang ada di dalam diri kita yang bisa digali dan dikembangkan. Enggak perlu berusaha untuk jadi orang lain. Mereka-mereka yang berhasil itu mereka yang jadi diri sendiri. Just be the best version of you,” ungkap Joey di akhir sesinya. 

Dominique Sawi, produser Morning Zone, turut membagikan pengalamannya selama tiga tahun menjadi produser beberapa program Trax FM seperti Skul Desak, Kompak Kampus dan Zona Cinta. “Produser di radio itu menyiapkan sesuatu untuk dipresent oleh penyiar. Dia harus tau karakter dari penyiar yang berbeda-beda, ini berkaitan dengan penulisan skrip. Kalau di Trax, produser juga merangkap jadi reporter, meliput event-event dan live report,” tutur Sawi. 

Serunya bekerja di broadcasting ialah setiap harinya mengalami hal-hal yang berbeda, tidak monoton dan challengenya selalu baru. Bisa datang ke event-event yang menarik misalnya konser asing dan bertemu artis favorit seperti yang pernah dialami Sawi. Tapi tentunya setiap pekerjaan punya tantangan tersendiri. 

Challengenya sebagai produser itu kita dituntut untuk kreatif. Cara untuk jadi kreatif ada dua menurut saya. Yang ribet dan yang mudah. Cara yang ribet butuh waktu dan uang kayak kursus, kuliah, seminar. Sedangkan yang mudah itu bagi saya, kita cukup power nap selama 30 detik – 15 menit untuk istirahatkan pikiran sejenak, setelah bangun, mulailah cari dari hal-hal di sekitar kita. Setelah ketemu satu hal, tuliskan sebanyak-banyaknya apa saja yang dipikirkan mengenai hal itu. Lalu pilihlah yang bagus-bagus dan terakhir disusun untuk jadi satu ide.” 

Sesi terakhir menjadi giliran untuk Didot, Program Director Trax FM untuk menjelaskan struktur organisasi dari Trax FM, posisi-posisi apa saja yang membuat radio tersebut hidup. Dan demikian berakhirlah workshop asyik hasil kerja sama UMN Radio dan Trax FM ini. Semoga apa yang sudah dibagikan dapat bermanfaat bagi peserta kelak terutama yang ingin mejadi radio announcer. (*) 


Wicked Thursday Night

October 18, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Dalam rangka perayaan Halloween yang akan jatuh di akhir bulan ini, UMN Night Oktober mengangkat tema ‘Wicked Night’ pada Kamis (17/10).

Setelah digelar pada 19 September lalu, UMN Night kembali hadir di Broadway SMS kemarin malam dengan suasana yang berbeda. Dekorasi panggung dibuat ala Halloween dengan hiasan labu dan permen-permen. Dari performer pun ada yang menggunakan kostum unik. 

Acara dibuka dengan street dance oleh duo Ivan & Jason. Mereka menunjukkan kemampuan melakukan gerakan keren yang telah diasah dalam UKM street dance di panggung UMN Night. Setelah itu dilanjutkan Marvellous dance yang terdiri dari dua gadis angkatan 2013 Elvi & Vicky dengan modern dancenya, diiringi oleh DJ Imanes. Sebelum band-band unjuk gigi, MC mengadakan games. Mereka mengajak dua orang penonton untuk meniru dance ala Elvi & Vicky. Ivan yang sebelumnya perform street dance menjadi salah satu yang ditantang untuk MD. 

Tibalah giliran para band mengguncang Broadway. Bukan hanya musik pop saja tapi rock juga membahana dari penampilan Ala Kadar dan The Chronicles. Masing-masing menunjukkan warna yang berbeda. Dan ternyata perfomer bukan hanya dari dancer atau band saja tapi juga ada cosplay dari UKM J-Café. Ini merupakan UKM yang beranggotakan penggemar anime Jepang. Kostum yang mereka gunakan seperti seragam sekolah karakter anime. Disediakan juga photobooth untuk pengunjung yang mau berfoto bersama J-Café. 

Sitback, band rock yang sudah meluncurkan album ini, menjadi last performer di Wicked Night. Mereka pun mengajak dua vokalis dari band yang berbeda untuk mengkolaborasikan aliran pop dan rock sehingga menghasilkan penutupan yang meriah. 

Bagi yang belum sempat menonton, tak perlu khawatir, UMN Night akan hadir kembali bulan depan dengan bertemakan ‘Tribute to Westlife’. Kamu penggemar Westlife? Jangan lewatkan ya! (*)  


Kebesaran Hati Kalahkan Kutukan

October 17, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Sang pangeran menerima tantangan ratu mencari obat untuk penyakit aneh putri semata wayangnya meski ia harus menghadapi si raksasa sendirian.




Alkisah di sebuah kerajaan yang sangat makmur bernama Somasutra, hiduplah seorang ratu yang telah menjanda. Suaminya meninggal saat putrinya, Ambarwati, dilahirkan. Sejak itu ratu dan sang putri hidup bersama pengawal dan dayang-dayang. Putri Ambarwati tumbuh menjadi remaja yang cantik jelita. Para pria berbondong-bondong datang untuk melamarnya, namuntak satu pun ada yang berhasil mendekati putri. Bertemu saja tidak bisa.

Hingga suatu hari, datanglah pangeran Jakaampar dari kerajaan Wijayawangsa ke istana Somasutra. Ia pun memiliki tekad untuk menjadikan Ambarwati sebagai istri. Berkat bantuan dari pembantu istana yang berhutang budi padanya, Jaka berhasil menyelinap dan menemukan Ambarwati sedang bersama para dayang. Tapi Ambarwati langsung jatuh pingsan. Selidik punya selidik, putri mengidap penyakit ‘malu’, setiap kali bertemu dengan lawan jenis ia tak tahan lalu pingsan.

Mendengar kejadian itu, pangeran dibawa menghadap ratu. Sebagai ganti dari hukuman, ratu memberikan perintah agar ia mencari obat untuk penyakit sang putri. Dengan keberaniannya, ia berjuang di hutan, mendapatkan petunjuk dari tujuh orang sakti hingga akhirnya berhadapan dengan seorang raksasa yang memberikan kutukan pada Ambarwati. Raksasa menceritakan kisah pilunya mengenai sang istri yang tewas akibat perayaan kelahiran Ambarwati oleh penduduk kerajaan. Karena itu ia menyimpan dendam pada putri. Akhirnya, ia berhasil membuat si raksasa memberikan pengampunan dan mematahkan kutukannya sehingga Ambarwati sembuh.

Itulah cuplikan dari pagelaran ‘Putri Malu’ yang dipersembahkan oleh Teater KATAK UMN pada Rabu (16/10) dan Kamis (17/10) menjadi pementasan ke-29 mereka. Ini juga merupakan sebuah pementasan inaugurasi di mana seluruh pemainnya ialah anggota KATAK baru angkatan 2013. “Setiap tahun teater KATAK sudah menyediakan pentas inaugurasi untuk MABA di mana kita akan pilih anak-anak untuk setia di KATAK setelah pentas ini,” jelas Cynthia PN, Produser ‘Putri Malu’. Ia juga mengatakan bahwa keseluruhan persiapan memakan waktu satu bulan. “Mahasiswa baru begitu masuk langsung dibentuk kelompok, hari untuk main dan peran-perannya. Awalnya, saat latihan tidak terlalu berekspektasi besar, tapi setelah pentas rasanya puas. Satu bulan latihan enggak sia-sia,” ucapnya.

Cerita disajikan dengan ringan disertai bumbu-bumbu komedi ala KATAK, membuat penonton terkesima hingga akhir. Selain KATAK, teater SEMEN Pahoa turut memeriahkan acara dengan pementasan berjudul ‘Raksasa’ sebagai pembukaan.

Acara selama dua hari itu berjalan dengan sukses dan memuaskan. Nantikan pentas-pentas KATAK selanjutnya. Salam Tek Koek Koek KATAK! (*)




Minggu, 13 Oktober 2013

Saatnya Warga Bicara

October 13, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service


Dalam acara bicaRA buKu (RAK) UMN perdana, Jum’at (11/9), Pepih Nugraha dalam bukunya yang berjudul Citizen Journalism (CJ) memaparkan bahwa CJ telah menjadi sebuah transmisi, warga bukan hanya sebagai penerima saja tapi juga sebagai pewarta.

Sebagai wartawan maupun citizen journalist (CJ), Kang Pepih menjelaskan bahwa keduanya harus memiliki nose for news, yakni curiosity (keingintahuan), skeptic (keragu-raguan), observation (mengawasi), change (mengamati perubahan perilaku), dan compare (mengamati perbandingan). Berangkat dari sana, CJ bisa menuliskan berita atau opini yang dituangkan dalam postingan di blog ataupun media seperti Kompasiana. Dan bukan hanya itu saja, tapi juga mencakup fiksi, tips dan tutorial. Tulisan tentunya juga memperhatikan news value.  

Meski demikian, ada hal yang perlu digarisbawahi bahwa CJ tidak bisa disebut sebagai wartawan. “Citizen Journalism lebih pas disebut pewarta warga karena kalau kita menjadi seorang wartawan, pertama kita harus punya pekerjaan itu. Lalu kita perlu melakukan cover both side terhadap suatu isu dan juga verifikasi. Pewarta warga tidak melakukan itu. Yang terakhir, wartawan akan terpaku pada kode etik wartawan sementara CJ hanya berpegang pada netiket atau sopan santun berinternet,” ungkap wartawan Kompas sekaligus manajer Kompasiana itu. Beliau  pun menambahkan di samping perbedaan tersebut, tetap ada tujuh dosa besar yang harus dihindari oleh wartawan maupun CJ, dan semuanya dijelaskan dalam buku Citizen Journalism karangannya. 

Dalam acara tersebut, kang Pepih turut sharing mengenai asyiknya menjadi CJ dengan blog pribadi. Ia mulai menggeluti social media (blog) tahun 2005 dengan sebuah blog dengan nama ‘Beranda T4 Berbagi’. Salah satu postingannya ialah ia mempertanyakan dan menganalisa mengapa orang Indonesia kalau ada acara bangku terdepan selalu kosong. Apakah karena orang Indonesia sangat menghormati senior atau merasa rendah diri untuk duduk di depan. “Kalau saya tulis berita ecek-ecek seperti itu di harian Kompas, tidak mungkin. Apa urusannya, itu opini bukan peristiwa, bukan berita. Tapi kalau saya nulis di blog asik-asik aja, enggak ada yang larang dan bahkan ada yang berkomentar, bertestimoni. Lama-lama merasa asik nulis di blog,” katanya. 

Kegiatan ngeblog Kang Pepih tersebut akhirnya menjadi bahan kritikan di kalangan wartawan Kompas, tapi itu malah membuatnya semakin teguh. Tahun 2008, beliau mendapat kesempatan untuk membentuk Kompasiana dengan mengedepankan connecting & sharing. “Saya nulis tiba-tiba sudah ada yang komen. Itulah arti dari connecting, bisa terhubung. Dan bisa sharing meskipun beritanya ecek-ecek. Kalau di Kompas cetak hanya bisa sharing tapi saya tidak tau gimana reaksi pembaca terhadap tulisan saya.”

Hingga tahun yang kelima, Kompasiana  yang terbuka untuk publik dan gratis, bisa menghasilkan 1000 tulisan setiap harinya. “Inilah gairah warga yang tak bisa ditahan,” tuturnya. (*) 


Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika|Sistem Informasi|Sistem Komputer|Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi|Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantarawww.umn.ac.id